Melempemnya Sektor Properti Indonesia

Maaf para pembaca setia, sudah lama tidak update sampai lupa password utk login. Akhirnya pakai akun ini lagi

Hmmm… kali ini mau bahas (pengembang) properti Indonesia deh… Dimulai dengan shocking news berita bahwa marketing sales SSIA nihil pada kuartal pertama tahun 2014 ini. NIHIL… NOL… Apa artinya?

Jika mengacu pada jawaban dari pihak manajemen, karena sulitnya pembebasan lahan di Karawang, berarti SSIA sedang kehabisan lahan yg bisa dijual — sementara mengisyaratkan bahwa masih ada peminat dari sisi pembeli. Benarkah?

Utk menyelidikinya maka kita harus melihat situasi emiten sejenis lainnya (vs peer). Misalnya MDLN, APLN, BSDE, ASRI, dll… Saya tidak akan menulis nilai penurunannya di sini, melainkan meng-encourage pembaca agar mencari sendiri.

Dengan kondisi begini saya akhirnya cut loss emiten properti di portofolio saya. Pahit tapi tetap harus ditempuh. Mungkin saja nanti harga sahamnya bisa naik lagi, saya tidak tahu dan tidak ingin bertaruh. Data lapangan menunjukkan sebaliknya.

Faktor penyebab utama adalah syarat DP yang tinggi. 30%, 40%, 50% utk rumah pertama, kedua dan ketiga. DP tinggi ini menyebabkan spekulan mundur. Efek bola salju berikutnya adalah harga properti tidak naik banyak krn demand turun. Dan so on… lambatnya harga naik (di bawah bunga bank dan bahkan di bawah inflasi) menyebabkan demand dari spekulan semakin pudar… harga semakin lambat lagi naiknya.

Harga turun? Hmmm kemungkinan itu tentu saja ada. Mungkin di secondary market (rumah bekas) sudah tampak demikian. So kali ini, I take my loss and move on.

Selingan sedikit utk sektor lain (karena saya tidak yakin dpt mengupdate blog ini sering2), di sektor pakan ternak kemarin ada penurunan harga cukup dalam karena kebijakan pemerintah dan naiknya harga bahan baku. Menurut saya, penyebabnya adalah harga bahan baku saja yang vital, namun bersifat temporary. Karena jika bahan baku naik lama, otomatis harga jual terpaksa dinaikkan (cost push inflation). Memang perlu ada waktu adaptasi (timelag) antara ketika biaya naik & harga jual bisa dinaikkan. Jika timelagnya begitu lama, otomatis akan membunuh pemain dengan efisiensi rendah, seperti seleksi alam. Setelah seleksi alam lewat, tinggal sedikit pemain yg artinya kompetisi menurun.

Di sisi kebijakan pemerintah membatasi jumlah DOC menurut saya cukup absurb… DOC berasal dari Parent Stock dan Parent Stock (PS) berasal dari Grand Parent Stock (GPS). artinya untuk pengendalian supply DOC membutuhkan perencanaan matang yg cukup lama (bertahun). Ketika ayam bertelur setiap hari, kita tidak bisa menyuruhnya untuk berhenti. Ia akan terus bertelur tidak perduli apapun yang kamu katakan pada dia😉 Jika telur yang dikeluarkan oleh GPS & PS dipaksa untuk dibuang, siapakah yang menanggung kerugian tsb? pemerintah? Absurb kan? Dan jika harga ditetapkan tinggi ketika tidak ada pembeli apakah harus dibuang? Tentu price slash kan? Semakin tegasnya kebijakan ini menandakan semakin tidak adanya kebebasan di Indonesia dan semakin ke arah diktator ala Korut😉 Tapi kita lihat saja, saya yakin ini akan berlalu dan hilang begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s