Dapatkah Valuasi Saham Diterapkan

the love is more dear than money

Ketika sesuatu diperdagangkan dengan uang, mau tidak mau benda yang diperdagangkan tersebut diukur dengan uang. Kenyataannya ada banyak sekali hal yang tidak dapat diukur dengan uang. Ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu benda menjadi lebih berarti (useful) atau tidak berarti (useless). Misal saja faktor iklim membuat baju musim dingin tidak memiliki banyak minat di negara tropis seperti Indonesia.

Secara teoritis, semua barang memiliki nilai multidimensi yang berbeda-beda. Adalah tidak mungkin untuk menyederhanakan hingga hanya menjadi satu ukuran dimensi, yaitu uang.


Sebuah perusahaan publik, yang diperdagangkan dengan media saham, juga memiliki banyak faktor yg mempengaruhi nilainya. Bagi seseorang, sebuah perusahaan bisa menjadi lebih berharga karena memiliki pengalaman menarik dgn produknya, sehingga berapapun harga sahamnya, mungkin ia akan menyimpan sahamnya dan tidak menjualnya. Atau contoh lain, bagi karyawan, saham perusahaan tempat ia bekerja memiliki nilai lebih dibanding saham perusahaan kompetitor. dst dst…

“Jika demikian, apakah mem-valuasi nilai perusahaan dapat dilakukan?”

Mari kita pikirkan kembali, harga saham yang diperdagangkan berubah setiap hari, bahkan setiap detiknya. Mengapa… Karena ada begitu banyak pelaku pasar yang memiliki nilai sentimen yang berbeda-beda terhadap saham itu. Akibatnya harga terus bergerak naik dan turun mencari nilai “pantas”. Tetapi… selama perdagangan berlangsung harga terus bergerak naik dan turun, dari paling atas sampai kebawah, harga bebas bergerak, yang artinya tidak ada suatu nilai “pantas”, tidak ada suatu nilai keseimbangan (equilibrium), jadi tidak ada satupun rumus baku untuk memvaluasi suatu perusahaan. variablenya terlalu banyak, atau malah dibilang variable untuk menghitungnya unlimited.

“Lalu untuk apa value investor melakukan valuasi saham?”

(Mohon baca sampai selesai karena ini agak panjang)
Ketika kita bersekolah (sebagaimana saya berasumsi pembaca pernah bersekolah), kita selalu dituntut mencari suatu jawaban yang pasti benar, ketika keluar dari ruang lingkup sekolah cara berpikir demikian sebaiknya ditinggalkan. Ketika Anda menemukan dompet seseorang di jalan, apa yang Anda lakukan akan berbeda dengan apa yang ditulis di ujian pendidikan moral Anda. Bukan artinya semua orang tidak bermoral, tetapi menyerahkan ke kantor polisi pun belum tentu mengembalikan ke pemiliknya. Bagi orang yg bermoral, mungkin menghubungi langsung pemilik dompet tersebut adalah cara yang paling logis ditempuh. Di dunia nyata, hidup kita sehari-hari, tidak pernah ada jawaban pasti, tapi jangan khawatir karena kita masih hidup sampai sekarang (setidaknya saat Anda sedang membaca tulisan ini). Apa yang kita lakukan adalah mencari cara yang paling logis, paling bermanfaat, paling efektif dan mungkin paling mudah.

Hal sama yang dilakukan oleh value investor bahkan trader (sadar atau tidak disadari). Tujuan akhir dari investasi ataupun trading sama-sama untuk mendapatkan keuntungan, bisa dalam bentuk dividen ataupun capital gain. Apa yang dilakukan oleh value investor adalah hanya salah satu cara, bukan mencari suatu jawaban akurat… Hanya suatu pendekatan (approach) yang dirasa paling logis, masuk akal, efektif, efisien. Bagi investor itu sendiri tentunya, bagi pengguna cara lain belum tentu cara itu paling baik, maka di dunia ini ada banyak sekali jenis profesi.

Pendekatan seorang value investor di sini terlihat paling logis karena memvaluasi satu perusahaan, yaitu perusahaan dibalik sahamnya karena memang saham adalah bukti kepemilikan atas perusahaan. Jadi investor memposisikan dirinya sebagai pemilik perusahaan. Dari pendekatan sederhana seperti melihat nilai PER (Price Earning Ratio) hingga metoda valuasi dengan formula seperti Graham, semua itu hanya pendekatan yang tidak benar dan tidak pula salah. Jika awalnya Anda merasa pendekatan tersebut masuk akal silahkan gunakan, kemudian rasakan sendiri apakah bermanfaat, efektif, efisien. Jika bisa diimprovisasi maka akan jadi lebih baik.

Life is a continuous learning process

One thought on “Dapatkah Valuasi Saham Diterapkan

  1. “Discipline is the bridge between goals and accomplishment. ” – Jim Rohn
    Pendekatan value atau teknikal atau padanan keduanya atau apapun juga, tidak berarti tanpa adanya disiplin dalam menerapkannya , bahwa hidup ini merupakan suatu perjalanan (panjang atau pendek) penuh dengan pembelajaran dan tanpa disiplin maka pembelajaran tersebut menjadi tidak maksimal (bila beruntung) atau menjadi sia-sia (bila kurang beruntung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s