Underperform Company with Good Products

Kebanyakan perusahaan yang memiliki produk bagus, biasa diikuti dengan pertumbuhan laba yang sehat. Misalnya Apple dengan produk iPhone yang begitu dicintai penggunanya, memberikan pertumbuhan laba yang signifikan pada Apple. Ada banyak contoh demikian di perusahaan publik Indonesia juga, misal Indomie, kecap Bango, Ultra Milk, dan masih banyak lagi…

Dari sudut pandang investor, perusahaan yg memiliki produk yg well-known apalagi dicintai penggunanya adalah suatu moat, competitive advantage yang membuat pesaingnya susah bersaing dengannya. Dengan berinvestasi pada perusahaan seperti itu sudah meminimalisir resiko kerugian karena penjualan, yaitu ujung tombak perusahaan mendapatkan untung sudah baik.

Untuk menjadi investor yang lebih baik lagi, ketelitian mendalam diperlukan. Yaitu menganalisa dari ujung tombak yang tajam, apakah disertai dengan pegangan tombak yang baik. Ternyata tidak jarang pula banyak tombak tajam dengan pegangan yg tidak baik. Kita ambil contoh produk belfoods yang bisa kita lihat di supermarket dan pasar modren lainnya di Indonesia. Meski menjual produk yang boleh dikatakan premium, namun ternyata perusahaan dibalik itu tidak mencetak laba yang baik.

Cara paling mudah dan cepat mencegah kita jatuh pada saham perusahaan begini adalah dengan melihat nilai ROE pada perusahaan. Biasa underperform company akan menghasilkan ROE yang sangat rendah. Patokan saya, jika dibawah inflasi maka sudah sama sekali tidak layak untuk dijadikan lahan investasi.

Lebih dalam daripada ROE, kita bisa melihat komponen penyusunnya. Perbandingan antara revenue (penjualan) dengan net income (pendapatan bersih). Dari revenue kita bisa melihat penjualan yang “terkesan ramai” di mata konsumen, inilah ilusi dari perusahaan tersebut. Namun untuk sampai ke tangan investor, revenue tadi harus melewati beberapa proses saringan, yaitu: beban pokok penjualan seperti bahan dasar produksi, gaji untuk buruh produksi, gaji dan biaya operasional kantor, beban bunga pinjaman di bank, pajak kepada pemerintah, dan barulah investor menerima sisa yang paling akhir dalam bentuk net income.

Apa dampak bagi investor? Lihat saja saat ini perusahaannya (SIPD — Sierad Produce Tbk) hanya diperdagangkan 0.4x nilai bukunya, tidak sampai separuh nilai bukunya. Cukup aneh karena di sektor hulu pun, pakan yang dihasilkan perusahaan cukup dikenal baik oleh peternak. Itupun harga perdagangannya (51) sudah sangat dekat dengan limit terendah harga perdagangan bursa (50) sehingga harga 51 per lembar itu masih ditopang oleh spekulator yang ingin mendapatkan untung singkat (karena tiap tick sudah cukup besar).

Revenue SIPD pada Q1 2013 adalah 926M, namun sampai ke Net Income tinggal 8M. pahit sekali bagi investor bukan? Jika dilihat dari ROE (Return of Equity) cuma didapat nilai 2%++ setahun. Alias lebih kecil daripada bunga deposito yang tidak beresiko. Maka tidak heran investor tidak tertarik saat ini untuk berinvestasi di sana. 

Disclaimer: tulisan di atas hanya opini pribadi, silahkan lakukan assessment sendiri dan keputusan berinvestasi dan tanggung jawab tetap di tangan masing-masing investor. Penulis blog ini tidak bertanggungjawab apabila ada kerugian materiil ataupun immateriil yang disebabkan oleh tulisan di blog ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s