Volatilitas di Pasar Obligasi Jepang

Sejak beberapa hari lalu index bursa Jepang, Nikkei sempat berfluktuatif dg rentang -7% sehari. Penurunan ini walau di rasa cukup parah dalam sehari, namun jika dikilasi balik kenaikan index Nikkei sejak November 2012, koreksi ini terlihat sangat wajar. Koreksi di pasar saham Jepang ini berdampak juga ke pasar regional yg mana IHSG juga ikut-ikutan mendapat sentimen negatif.

Untuk melihat dampak jangka panjangnya, maka mari kita lihat sebab-sebab swing (pergerakan besar) di bursa saham dgn epicentrum di Jepang ini. Dimulai dg perdana mentri baru Shinzo Abe, yg menargetkan Jepang mencapai inflasi, Jepang melakukan stimulus moneter besar-besaran, kebijakan fiscal, dan structural reform. Begitu banyaknya injeksi uang baru (Yen) di awal kebijakan Abe membuat banyak risk asset terbang. Bukan cuma di Jepang tetapi juga di Indonesia.

Keraguan mulai muncul ketika pasar obligasi (surat hutang negara) Jepang, JGB (Japan’s Govt Bond), naik tinggi karena kekhawatiran hutang negara itu sudah mencapai 220%+ dari GDP dan belum tentu kemampuan Jepang bisa menservis hutang itu agar bertahan. Jika Jepang ada tanda-tanda kesulitan membayar, maka wajar saja para pemegang obligasi mengharapkan bunga lebih tinggi.

Perlukah kita khawatir? Menurut saya tidak. Sebab:

  1. Pemegang obligasi Jepang itu kebanyakan adalah rakyatnya sendiri dan berdenominasi Yen
  2. Karena berdenominasi Yen, sangat selaras dengan kebijakan stimulus yang tinggal mencetak uang untuk membeli obligasinya sendiri
  3. Devaluasi Yen, sehingga nilai Yen turun mendiskon bunga sebenarnya yg dibayarkan oleh obligasi tsb.

 

Walau tidak ada ancaman kelangsungan pemerintahan Jepang, naiknya bunga pada JGB mungkin tidak akan turun kembali dan menurut kewajaran harusnya memang naik. Secara bunga real nya sudah terlalu rendah. Misal saja bunga 10Y bond yang awalnya 0.7% anjlok ke 0.5% setelah stimulus, namun balik lagi ke level 0.7% sekarang. Berikut time frame berbedanya jika kita sebagai pemegang bond tsb:

  1. sebelum Abenomics, bunga 0.7% dengan inflasi -0.5% (deflasi). Maka real interest yg diterima adalah 0.7-(-0.5) = 0.7+0.5 = 1.2%
  2. proses Abenomics, bunga anjlok 0.5%, inflasi sempat membaik -0.1% (tapi sekarang memburuk -0.9%), kita asumsi nilai tengah saja -0.5%. bunga yang diterima adalah 0.5-(-0.5) = 0.5+0.5 = 1.0%. Di sini bond holder menerima lebih sedikit dibanding sebelumnya
  3. masih dalam proses Abenomic, ketika bunga naik menjadi 0.7%. maka yang diterima bond holder adalah 1.2%. (Hitung sendiri)
  4. Asumsi jika Abenomic berhasil dan inflasi datang, maka bond akan naik mengadjust inflasi. Tetapi mungkin saja karena bond lebih banyak dibeli oleh JGB, bunga tetap rendah, dan artinya bunga yg sebenarnya semakin rendah.

Saya kira sangat wajar Abe dan Kuroda tidak khawatir dengan kenaikan bond yield, yang artinya mereka semakin punya banyak ruang untuk mengatur bunga yang sebenarnya. Dan jika bunga yang sebenarnya turun, inflasi akan datang, seperti efek bola salju dalam pemulihan ekonomi.

Jika ini berhasil, Jepang akan menjadi contoh bagi negara lain dalam upaya keluar dari Liquidity Trap. Jika tidak, mungkin kita akan melihat jenis penyakit ekonomi baru yang kita tidak tahu bisakah Jepang melewatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s