Inspirational Macroeconomist

Ketika krisis berlangsung (1998 dan 2008) banyak sekali ahli ekonomi (economist) dadakan yg muncul dan mulai membicarakan tentang krisis, apa yg salah, apa yg seharusnya, dll. Antar sesama economist itu sendiri dapat bertolak belakang dan membuat bingung kita sebagai orang awam dan memperparah psikologis investor karena selalu saja ada ramalan menakutkan yang mendorong investor untuk keluar dari pasar modal. Pengalaman pahit di masa lalu membuat para economist ini menjadi selalu was-was, kalau nanti krisis datang lagi.

Tanpa melakukan apa-apa, para economist itu bagi saya tidak dianggap berarti. Kecuali kalau ia juga mengantisipasi prediksinya. Misalnya dengan membeli aset jika ia memprediksikan boom, dan membeli bond jika ia memprediksikan doom. Jika tidak ada portofolio, atau isi portofolionya fifty-fifty, maka menurut saya ia hanyalah economist wanna be. Sebab ia tidak bertanggung jawab atas prediksinya sendiri. Sebagai investor adalah tindakan ceroboh untuk mengikuti nasehat mereka.

Beberapa investor lebih memilih untuk tidak menebak timing (kapan boom, kapan doom). Namun ada legenda investor yang memiliki pengetahuan makroekonomi baik dan benar-benar mengantisipasi prediksinya. Ia adalah Sir John Templeton.

Image

Awal karirnya di Wall Street dimulai dengan kantong yang kosong. Ketika depresi terjadi, ayahnya tidak dapat membiayai sekolahnya. Ia bahkan harus mengambil tiga pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri dan sekolahnya. Ketika perang Eropa meletus, dalam pandangannya, hal ini akan mendorong Amerika keluar dari depresi. Ia meminjam uang dari bossnya dan menginvestasikan di Wall Street. Bayangkan berapa resiko yang ia tempuh?

Saham yang ia beli adalah yg harganya di bawah 1$. Ia meminta brokernya untuk membeli semua saham dengan nilai di bawah 1$. Brokernya kaget dan mengulangi bertanya, apakah ia ingin membeli perusahaan baik saja yg bernilai 1$? Tidak, ia mau membeli perusahaan apa saja, termasuk yg sudah diambang kebangkrutan.

4 tahun kemudian, investasi senilai 10000$ yg dilakukan sudah menjadi 40000$. Hanya sedikit dari 104 perusahaannya yg benar-benar mengalami kebangkrutan. Prediksinya terbukti benar.

Kisah-kisah selanjutnya juga membuktikan ia lagi-lagi tepat dalam menganalisa makro ekonomi. Ia berinvestasi di Jepang setelah perang, dan keluar sebelum keadaan Jepang menjadi terlalu baik (euforia) di pertengahan tahun 80-an.

Gaya investasi Templeton adalah seorang value investor. Ia fundamentalist, pencari diskon. Ia mencari saham yang dijual dibawah harga asetnya karena kondisi sementara, dan kemudian ia akan menyimpan dalam durasi beberapa tahun. Rata-rata durasi holdnya adalah 6-7 tahun. Ia memilih saham atau sektor atau industri yang sudah sangat tertekan yg ia sebut “points of maximum pessimism“.

Nah saat orang sedang mengelu-elukan sektor infrastruktur sebagai sektor yang optimis. kira-kira saham atau sektor mana yang lagi berada di “points of maximum pessimism” versi Templeton yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s