Energi Positif dari Berinvestasi Saham

Hari ini saya terasa sangat lelah karena aktivitas tadi sore, negosiasi bisnis sangat menyedot energi saya. Dalam bisnis yang kita jalankan sendiri, kita perlu optimis dan bersemangat dalam mencapai target. Namun ketika target dan harapan berbeda dengan kenyataan… begitulah kelelahan batin datang mendera. Ditambah bagaimana proses negosiasi bisnis melibatkan persaingan ego antara saya dan orang lain, Oh…

Untuk menetralisir rasa lelah (batin) ini saya coba utk menulis tulisan kali ini (walau sedang tidak ada banyak waktu luang), sebuah tindakan tanpa pamrih, tetapi… tidak 100% karena saya ada harapan. Harapan orang yang membaca mendapatkan manfaat. Perbuatan seperti ini memberikan batin energi baru. Dalam gambaran spiritual, saya memotong ego saya (memberi milik saya — pengalaman), ego yg tadinya besar dan bertubrukan dengan dunia (kenyataan), dipotong menjadi lebih kecil sehingga mempunyai ruang untuk menerima (dunia). Biar ga terlalu abstrak, kita mulai yah…

Continue reading

Investasi Sedini Mungkin

Berikut adalah ilustrasi mengapa memulai investasi sebaiknya sedini mungkin. Ilustrasi di bawah menggambarkan top up dana 24jt setahun dgn yield 15% per tahun. Skenario kiri (hijau) adalah invest di usia 31 hingga 40 (10 tahun), sementara skenario kanan (orange) adalah invest mulai usia 41 hingga 60 (20 tahun). Sama-sama 15% per tahun, lihat hasilnya dan simpulkan sendiri. Happy Invest!

ss

Melempemnya Sektor Properti Indonesia

Maaf para pembaca setia, sudah lama tidak update sampai lupa password utk login. Akhirnya pakai akun ini lagi

Hmmm… kali ini mau bahas (pengembang) properti Indonesia deh… Dimulai dengan shocking news berita bahwa marketing sales SSIA nihil pada kuartal pertama tahun 2014 ini. NIHIL… NOL… Apa artinya?

Jika mengacu pada jawaban dari pihak manajemen, karena sulitnya pembebasan lahan di Karawang, berarti SSIA sedang kehabisan lahan yg bisa dijual — sementara mengisyaratkan bahwa masih ada peminat dari sisi pembeli. Benarkah?

Utk menyelidikinya maka kita harus melihat situasi emiten sejenis lainnya (vs peer). Misalnya MDLN, APLN, BSDE, ASRI, dll… Saya tidak akan menulis nilai penurunannya di sini, melainkan meng-encourage pembaca agar mencari sendiri.

Dengan kondisi begini saya akhirnya cut loss emiten properti di portofolio saya. Pahit tapi tetap harus ditempuh. Mungkin saja nanti harga sahamnya bisa naik lagi, saya tidak tahu dan tidak ingin bertaruh. Data lapangan menunjukkan sebaliknya.

Faktor penyebab utama adalah syarat DP yang tinggi. 30%, 40%, 50% utk rumah pertama, kedua dan ketiga. DP tinggi ini menyebabkan spekulan mundur. Efek bola salju berikutnya adalah harga properti tidak naik banyak krn demand turun. Dan so on… lambatnya harga naik (di bawah bunga bank dan bahkan di bawah inflasi) menyebabkan demand dari spekulan semakin pudar… harga semakin lambat lagi naiknya.

Harga turun? Hmmm kemungkinan itu tentu saja ada. Mungkin di secondary market (rumah bekas) sudah tampak demikian. So kali ini, I take my loss and move on.

Selingan sedikit utk sektor lain (karena saya tidak yakin dpt mengupdate blog ini sering2), di sektor pakan ternak kemarin ada penurunan harga cukup dalam karena kebijakan pemerintah dan naiknya harga bahan baku. Menurut saya, penyebabnya adalah harga bahan baku saja yang vital, namun bersifat temporary. Karena jika bahan baku naik lama, otomatis harga jual terpaksa dinaikkan (cost push inflation). Memang perlu ada waktu adaptasi (timelag) antara ketika biaya naik & harga jual bisa dinaikkan. Jika timelagnya begitu lama, otomatis akan membunuh pemain dengan efisiensi rendah, seperti seleksi alam. Setelah seleksi alam lewat, tinggal sedikit pemain yg artinya kompetisi menurun.

Di sisi kebijakan pemerintah membatasi jumlah DOC menurut saya cukup absurb… DOC berasal dari Parent Stock dan Parent Stock (PS) berasal dari Grand Parent Stock (GPS). artinya untuk pengendalian supply DOC membutuhkan perencanaan matang yg cukup lama (bertahun). Ketika ayam bertelur setiap hari, kita tidak bisa menyuruhnya untuk berhenti. Ia akan terus bertelur tidak perduli apapun yang kamu katakan pada dia😉 Jika telur yang dikeluarkan oleh GPS & PS dipaksa untuk dibuang, siapakah yang menanggung kerugian tsb? pemerintah? Absurb kan? Dan jika harga ditetapkan tinggi ketika tidak ada pembeli apakah harus dibuang? Tentu price slash kan? Semakin tegasnya kebijakan ini menandakan semakin tidak adanya kebebasan di Indonesia dan semakin ke arah diktator ala Korut😉 Tapi kita lihat saja, saya yakin ini akan berlalu dan hilang begitu saja.

Investment Progress 2014.02

YTD: +23.13%

redbox-fund

Mohon maaf kepada pembaca setia karena blog ini jarang update. Persiapan saya untuk pindah benar-benar menyedot waktu dan tenaga saya.

Pertumbuhan portofolio sejauh ini masih cukup menggembirakan. Pada bulan Maret ini terlihat sektor agriculture khususnya CPO mulai membaik karena naiknya harga komoditas. Namun karena sentimen pribadi saya tidak masuk sektor CPO. Sebagai penggantinya saya masuk ke HEXA yg menjual alat berat kepada industri agriculture.

Saya juga memutuskan keluar dari EKAD karena saat ini perusahaan blue chips dan liquid juga menawarkan peluang yang baik, shg tidak ada untungnya menyimpan red chips. Rencana ke depan, saham yg tidak liquid juga sedang saya usahakan untuk menjualnya dan pindah ke blue chips.

 

Investment Progress 2013.12

Akhirnya tahun 2013 sudah berlalu. Walau telat, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada semua pengunjung blog ini. Saya sibuk sekali karena ingin pindah kota, dan sekaligus merintis usaha baru di kota tujuan nanti, maka waktu dan energi saya sangat terbatas untuk mengupdate blog ini.

Laporan kinerja investasi redbox-fund 2013 ditutupi dengan angka negatif. -5.55% YTD (suatu kenyataan pahit namun tetap harus diterima dengan lapang dada haha)

progress

Porsi portofolio dan komponennya tidak berubah signifikan dengan sebelumnya. Dan belakangan ini tidak ada penambahan dana berhubung situasi ekonomi riil juga tidak mendukung untuk menghasilkan income surplus untuk investasi.

Pandangan mengenai 2014, menurut saya situasi turunnya harga saham (capital outflow) berakar dari 1 hal saja namun berantai ke hal lain. Defisit neraca Indonesia, dengan komposisi ketergantungan impor yg tidak bisa diselesaikan hanya dengan jatuhnya nilai rupiah. Impor migas, tidak akan berhenti karena harga di konsumen disubsidi. Kebijakan menaikan harga migas sangat lambat karena situasi politik juga sedang panas menyambut pesta PEMILU. Kondisi yang tidak dapat diperbaiki cepat ini menurut saya mendorong capital outflow (walau memang ada faktor eksternal dari FED dkk) yang mengakibatkan rupiah melemah, berikutnya naiknya suku bunga. Karena bunga tinggi begitu menarik, imbal hasil di saham harus mengimbangi pula, akibatnya jatuhlah harga saham.

Bagi para sesama investor yang mungkin gelisah, saya menawarkan sudut pandang berbeda, semoga bisa sedikit menghibur.

Harga barang banyak naik, namun harga perusahaan malah turun. Padahal yang menghasilkan barang kan perusahaan-perusahaan itu. Ini situasi sangat ironis. Dalam analogi sederhana, harga ikan naik, tapi harga pancing turun. Atau lebih detilnya, harga pancing, harga umpan, harga kapal, semuaaaaaa naik. tapi beli satu paket harganya turun.

Berpikir begini, saya tidak pernah satu haripun cemas harga saham saya turun. Sebaliknya saya menyayangkan tidak bisa berpartisipasi lebih pada kesempatan kali ini karena sedang bersiap untuk pindah dari kota asap ini. Wish me luck yah